Home » , , » Pengalaman Pertama ke Luar Negeri - Jepang 2019

Pengalaman Pertama ke Luar Negeri - Jepang 2019

Written By Depid on Tuesday, June 25, 2019 | 8:59 PM

Halo teman-teman, setelah hampir sebulan lebih tanpa update postingan, hari ini saya sempetin untuk menuliskan cerita singkat pengalaman pertama saya ke luar negeri. Jadi karena kegiatan ini komentar di blog agak slow respon ya. Oke berikut cerita pengalaman saya pertama keluar negeri, semoga bisa menginspirasi dan memberikan informasi bagi teman-teman yang kebetulan memiliki beberapa pertanyaan terkait dokumen yang harus dipersiapkan.


Singkat cerita, acara ke luar negeri ini semata-mata bukan karena rekreasi, namun secara dadakan ada penugasan dari kantor untuk mengikuti design review meeting untuk proyek PLTU yang ada di Sulawesi Selatan. Singkat cerita, sebelum ke luar negeri syarat pertama yang harus kita punya adalah Passport. Passport ada 2 macam, yaitu Passport biasa dan Passport elekronik. Saya sarankan, bagi temen-temen yang masih akan membuat Passport, buat saja Passport elektronik ya, Karena Passport ini memiliki beberapa keunggulan.

Jadi berikut adalah list dokumen yang harus dipersiapkan untuk melancong ke luar negeri:
1. Passport (biasa/elektronik)
2. VISA (untuk negera tertenu membebaskan VISA ini bagi pengguna E-Passport)
3. Booking Pesawat PP
4. Itenary (Jadwal kegiatan di luar negeri)

Oiya, bagi temen-temen yang pakai Passport biasa, wajib urus VISA ya, ngurusnya di kedubes Negara tujuan yang ada di Indonesia dengan membawa beberapa form permohonan.

----oo----

Akhirnya waktu telah tiba, tanggal 12 Mei 2019 perjalanan saya di mulai menuju Jepang dengan jumlah uang yang saya bawa Cuma 2 lembar total ¥11.000 (IDR 1.330.000). Jepang merupakan destinasi luar negeri pertama saya lantaran kegiaan design review meeting dilaksanakan di Jepang, tepatnya di Tsurumi, Yokohama. Perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta Terminal 3 menuju Bandara Haneda (Jepang) memakan waktu kurang lebih 7 jam dengan pesawat direct (ANA Airlines). Berangkat pukul 7.00 WIB, kami tiba di Jepang pukul 16.30 waktu Jepang. Oiya, ngomong-ngomong ini WIB dengan Jepang wakunya selisih 2 jam ya (lebih cepat 2 jam dari WIB) dan saya kesana tidak sendirian, melainkan dengan beberapa pegawai lain dengan jumlah total 10 orang.
Personil Japan 2019 - Buka Puasa di Shinjuku

Bagi teman-teman yang akan ke luar negeri dan belum ada pengalaman sebelumnya, disarankan membawa kartu debit/kredit yang berlogo VISA aau mastercard ya, supaya dapat digunakan di luar negeri, baik untuk transaksi langsung saat pembelian maupun penarikan uang dari ATM-ATM yang ada di Jepang.

Saat itu cuaca di Jepang adalah musim Semi menuju ke musim Panas. Udara masih dingin dan berangin, dan kadang-kadang saja matahari bersinar. Rencana rombongan saya akan berada di Jepang selama 8 hari 7 malam. Hotel yang kami gunakan adalah Livemax Hotel dengan biaya per malam sekitar ¥11.000 dimana hotel ini menyediakan microwave. Oiya, kami kesana saat bulan puasa lo. Dimana subuh di sana itu jam 3.00 dan maghrin jam 18.30. Coba berapa lama durasi puasa di sana?

Selama weekdays mulai dari jam 9.00 s.d 16.30 kami semua bekerja sesuai dengan tugas kami masing-masing, dan setelah pulang kerja baru lah waku bagi kami untuk menjelajah Negara Jepang. Kebetulan Tsrumui-ku, kota Yokohama, Kanagawa Prefecture. Jarak dari Tokyo tidak terlalu jauh, jadi ya kita manfaatkan untuk menjelajah ke Tokyo biasanya.

Oiya, melihat Negara Jepang itu bagus lo, penduduknya pun tertib sekali kepada lalu lintas. Jadi di sana lampu merah tidak hanya berlaku untuk kendaraan bermotor/mobil, orang pun ada lampu merahnya dan kebudayaan mereka mematuhi lampu merah tersebut. Mereka akan berhenti berjalan/bersepeda apabila lampu berwarna merah meskipun didepan jalan mereka tidak ada kendaraan yang lewat. Kebudayaan merekok pun bagus sekali, jadi di Jepang merokok idak dapat dilakukan di sembarang tempat. Ada sebuah tempat tersendiri yang digunakan untuk merokok, dan di sana ternyata apabila merokok tidak pada tempatnya bisa didenda sebesar ¥2.000. Kebudayaan antre pun patut dicontoh. Karena penduduk Jepang untuk bepergian kemanapun umumnya menggunakan fasilitas umum (KRL), ketika antre menunggu KRL mereka antre berjejer secara rapi dan urut. Jadi keika KRL datang, baik penumpang yang turun maupun naik merasakan hal yang nyaman, mereka mempersilahkan penumpang turun dulu, kemudian naik ke dalam KRL secara tertib. Melihat kebudayaan yang sangat bagus, saya sangat salut dan merasakan bahwa hidup di Jepang sangat nyaman (sepertinya), dimana orang-orangnya taat dan berbudaya bagus, sehingga menciptakan lingkungan yang nyaman dan bersih. Oiya, di sana sering di jumpai lo burung-burung gagak meskipun di perkotaan. Pantesan ya, ketika kita nonton anime atau film kartun jepang, sering kita lihat/jumpai burung gagak atau hanya suaranya di akhir hari (sore hari) dalam film-film tersebut. Ternyata memang di Jepang masih ada yang seperti itu
Potret Burung Gagak di tengah kota Tokyo

Oiya, ketika di Jepang cukup susah menemukan makanan halal, jadi ketika teman-teman yang khususnya beragama Islam, harus benar-benar memilah-milah tempat makan jika akan makan di restoran atau rumah makan. Di sana banyak warung-warung yang menjual makanan dengan sajian daging babi, dan juga saran saya hindari makan Ramen karena umumnya berdaging babi atau berkaldu babi. Lah, terus gimana kalau pengen makan ramen? Masak ke Jepang gak makan ramen? Tenang-tenang, ada kok Ramen Halal. Saat itu ketika kami sedang menjelajah kota Shinjuku, setelah berbelanja heboh di UNI QLO dan teman-temannya, kita makan ramen di Ramen Halal, namanya SHINJUKUGYOEN RAMEN OUKA. Yang jualan pun bisa berbahasa melayu dan Indonesia, malah di dalam kebetulan saat itu kami dilayani oleh pegawai yang asli dari Sukabumi, Jabar. Namanya …….waduh lupa, tapi cantik dan berjilbab kok mbak ramennya. Hahaha… Saat itu saya pesan Ramen Spicy Regular Fish dengan harga ¥2.100. Cukup mahal bukan? Ya memang makanan di sana harganya mahal kalo bandingan kita dengan di Indonesia dan membelinya dengan gaji Indonesia. Hehehe… Namun asal kalian tahu ya, untuk barang-barang yang di Indonesia mahal, di sana jauh lebih murah lo. Seperti produk-produk UNI QLO, gundam, jam tangan casio, bahkan tamiya dengan aksesorisnya. Hahaha…
Lokasi Ramen Halal

Singkat cerita hari demi hari berlalu selama weekdays, selama itu pula hampir tiap malam kami sempatkan untuk jalan-jalan. Mulai dari ke Shinjuku, Shibuya, Akihabara (dunianya pecinta anime), Kawasaki, hingga pernah dalam satu perjalanan kami berheni di kota Kamata. Hal itu terjadi ketika KRL di sana mengalami schedule yang acak-acakan dikarena suau accident. Di Kamata kami akhirnya berhenti dan menyempakan sholat di Masjid yang ada di Kamata. Subhanalloh, akhirnya sholat maghrib juga di Masjid. Masjid tersebut dikelola oleh orang Bangladesh, sehingga ketika berbuka gratis di sana, kami diberi makanan seperti masakan orang sana. Rasanya gimana? Aneh memang, api saya habiskan satu piring lantaran orang-orang lain pada bersih makannya dan mungkin lagi lapar-laparnya saya ya. Hahaha. Padahal teman-teman saya lainnya beberapa diantaranya tidak “kolu” makan makanan tersebut. Hahaha…

Oiya berbicara tenang masjid, ketika di Akihabara, beberapa diantara kami menyempatkan juga untuk mencari masjid karena sampai Akihabara pas waktu maghrib. Akhirnya dengan bantuan google maps kami menemukan Masjid Nusantara. Wow, Indonesia banget kan namanya? Ternyata masjid tersebut memang dikelola oleh orang-orang Indonesia yang tinggal di sana. Kebetulan kami sempa mengikuti sholat maghrib berjamaah, dimana saat itu Imamnya adalah Imam masjid Istiqlal Jakarta (duh, map lupa namanya). Makanan takjil di sana pun suasana Indonesia banget, kalo gak salah saya lihanya es campur. Hemmm… Jadi bagi temen-temen saat berkunjung di Akihabara, jangan khawatir cari masjid, dekat stasiun sana ada masjid Nusantara ini kok. Cari aja di google maps, tinggal jalan aja cepe kok nyampenya (karena budaya mereka di sana jalan kaki juga, jadi harus jalan ya. Gak bisa gojek).
Masjid Nusantara - Akihabhara, Japan

Hari berganti demi hari, akhirnya weekend tiba. Saat hari Sabtu, sengaja saya dan teman saya (berdua) melancong lebih jauh, yang biasanya hanya ke arah utara menuju Tokyo, kami pergi ke arah selatan demi melihat Gunung Fuji. Kalian tahu gunung Fuji kan? Biasanya kalo di Doraemon pasti diliatin gunung Fuji nya kan ya. Ternyata gunung Fuji bisa juga di lihat dari Danau Kawaguchiko. Ini danau yang di anime Yowamushi Pedal bukan ya? Soalnya deket-deket sama Hakone. Gak asingkan dengan kata Hakone? Hahaha… udah ah, ntar jadi cerita tentang Yowamushi Pedal lagi. WKwkwk…

----oo----

Pagi itu kami melancong, dengan berganti-gani kereta hingga pada akhirnya kami sampai di Stasiun Kawaguchi. Di sana ramai sekali, dan di sana kita bisa mengetahui destinasi wisata mana saja yang bisa kia pilih dan kita beli tiket bus nya di sana. Kebetulan saat itu ada festival Shiba-Sakura, pas deh kita beli tiketnya untuk ke tempat itu. Harap-harap bisa liat gunung Fuji, eh nyatanya sedang mendung. Sedih deh, cuaca di sana dingin, jadi kalo gak musim panas kayaknya sering mendung kali ya, macem di Tawangmangu, Karanganyar gitu. Selain ke festival Shiba-Sakura, kami beli juga tiket bus untuk mengelilingi danau Kawaguchiko. Dengan tiket bus tersebut, kita bisa berhenti di beberapa spot pemberhentian wisata, dan apabila ingin melanjukan lagi bisa menunggu bis selanjunya. Jadi enak lah…
Shiba-Sakura Festival 2019

Pada akhirnya, kami sempat melihat puncak gunung Fuji saat berada di danau Kawaguchiko dan saat pulang menuju stasiun Kawaguchi. Hanya sediki yang kelihatan, pada akhirnya saat perjalanan dari stasiun Kawaguchiko menuju stasiun Outsuki ditengah perjalanan cukup jelas kami dapat melihat puncak gunung Fuji. Sumpah, keren, akhirnya bisa lihat puncak gunung legendaries yang sering muncul di anime-anime itu secara langsung. Kapan lagi coba bisa liat? Ya mungkin next trip bisa sih diagendakan liburan ke Jepang lagi, minimal sama istri. Hehehe…
Danau Kawaguchiko

Oke, hari Sabtu saat itu berjalan sungguh melelahkan, hingga pada hari Minggu, pagi hari sebelum kami pulang ke Indonesia (kami pulang pukul 22.30), saya sempatkan lagi main di Tokyo. Kali ini tujuan utama saya adalah Odaiba dan Tokyo Tower. Apa itu Odaiba? Intinya, kalo di Odaiba kita akan menemukan patung gundam yang gedhe banget. Pasi pernah liat di google kan foto orang-orang bareng dengan patung gundam? Ya, hari itu saya dan teman saya eksplor ke sana sembari saya membeli gundam 1 buah (jastip-an) dan mengunjungi Tokyo Tower.
Odaiba, Driver City Tokyo
Gundam Base - Odaiba
View Tokyo Tower

Akhirnya waktu telah menghanarkan kami di penghujung pintu keluar Negara Jepang ini. Minggu malam, kami semua sudah siap untuk pulang ke tanah air. Kebetulan saya sendiri “misah” pesawat pulangnya, karena efisiensi biaya, saya beli tiket pesawat Air Asia, dimana mengharuskan saya transit dulu di Kuala Lumpur sebelum sampai ke Indonesia. Pada akhirnya perjalanan malam itu berlalu, pagi hari saya sampai di Malaysia, kemudian lanjut ke Indonesia dengan selamat. Alhamdulillah…

Oiya, sebelum keluar dari bandara Indonesia, kita harus mengisi form tentanng custom (bea cukai), kemarin saya isi no no no semua, karena memang barang yang saya bawa nilainya kurang dari $100, jadi barang-barang yang saya beli di Jepang bebas pajak deh. Hehehe…

Satu hal yang dapat saya ambil hikmah dari pengalaman pertama saya ke luar negeri tersebut, khususnya Jepang adalah saya belajar banyak sekali dari penduduk Jepang. Mulai dari budaya antre yang sangat tertib, hingga sikap yang ak membeda-bedakan antara mana orang kaya dan orang miskin. Di sana mereka terlihat sama, baik kaya maupun miskin, mereka tetap naik KRL, mereka tetap mengantre, dan sama seperti yang lain. Tidak ada yang menampilkan (menyombongkan) kekayaan mereka. Kesadaran akan lingkungan mereka pun sangat tinggi. Merokok tidak disembarang tempat patut kita acungi jempol demi menjaga kenyamanan pengguna fasilitas umum lainnya.

Jadi next trip kemana? Ku harap next trip ke pelaminan dulu ya, doain ya guys. Hehe…

Sekian cerita pengalaman pertama saya ke luar negeri, apabila ada pertnyaan bisa komen-komen di bawah. Dan apabila ada perkataan yang salah di sini, mohon untuk dikoreksi atau diklarifikasi. Berikut akan saya share hasil jeprat-jepret saya di Jepang dan beberapa informasi penting terkait pembiayaan yang saya keluarkan di Jepang ataupun saat mengurus VISA. See you! Ciao! Ganbatte!!
Biaya-biaya penting yang bisa dijadikan informasi penting atau perbandingan:
1. Biaya pengurusan VISA di Surabaya (tergantung KTP empat mengurusnya) : IDR 380.000
2. Biaya Tiket Berangkat Garuda Indonesia (operated by ANA Airlines): IDR X.780.000  dg berbagai usaha
3. Biaya Tiket Pulang Air Asia + 1 Baggage: IDR X.893.835 dg berbagai usaha
4. Biaya Pembelian Kartu Suica (utk KRL): ¥500
5. Pengisian Kartu Suica untuk 1 minggu: minimal ¥5.000 (kalau suka jalan-jalan)
6. Hotel Livemax Tsurumi-Ku 3 hari 4 malam: ¥33.000
7. Hotel Mets 3 hari 3 malam: IDR 3.000.000 (kisaran segitu ya)
8. Tiket Bus keliling Danau Kawaguchiko full 2 days trip: ¥1.500
9. Tiket Bus dan masuk festival shiba-sakura: ¥2.000
10. Ramen Spicy Regular Fish: ¥2.100
11. Tamiya asli: ¥600-¥700 (kisaran segitu ya)
12. Jam tangan Casio: Udah kesana aja ya, ntar ketahuan lagi aku beli apa aja. Hehehe… hampir aja keterusan!

Memory:

Foto disela-sela jam istirahat kerja
Foto terdampar di Kawasaki
Tukang Fotonya Jahil (by Mas Asyari)

Foto Mbak-mbak Strong!! SAYONARA
Thanks to mas-mas dan mbak-mbak guidance yang baik dan temanku mas Joko bukan Sari Laut

0 comments:

Post a Comment

Jika ada yang masih kurang jelas, silahkan untuk bertanya pada kolom komentar di atas atau dengan menghubungi saya di halaman kontak.

1. Centang kotak "Notify me" untuk mendapatkan notifikasi komentar.
2. Semua komentar dengan menambahkan link akan dihapus dan tidak ditindaklanjuti

close