Home » , » Analisis Novel Laskar Pelangi

Analisis Novel Laskar Pelangi

Written By Depid on Monday, March 5, 2012 | 6:04 PM

Setelah membaca dan juga memahami isi dari Novel karya Andrea Hirata, yakni yang berjudul "Laskar Pelangi", membuat saya tertarik untuk menganalisis Novel ini demi menguji pemahan saya, dan berikut adalah hasil analisis saya



Sinopsis Novel Laskar Pelangi:
 Novel “Laskar Pelangi” menceritakan kisah masa kecil anak-anak kampung dari suatu komunitas Melayu yang sangat miskin Belitung. Anak orang-orang ‘kecil’ ini mencoba memperbaiki masa depan dengan menempuh pendidikan dasar dan menengah di sebuah lembaga pendidikan yang puritan. Bersebelahan dengan sebuah lembaga pendidikan yang dikelola dan difasilitasi begitu modern pada masanya, SD Muhammadiyah-sekolah penulis ini, tampak begitu menyedihkan dibandingkan dengan sekolah-sekolah PN Timah (Perusahaan Negara Timah). Mereka, para native Belitung ini tersudut dalam ironi yang sangat besar karena kemiskinannya justru berada di tengah-tengah gemah ripah kekayaan PN Timah yang mengeksploitasi tanah ulayat mereka.
Kesulitan terus menerus membayangi sekolah kampung itu. Sekolah yang dibangun atas jiwa ikhlas dan kepeloporan dua orang guru, seorang kepala sekolah yang sudah tua, Bapak Harfan Efendy Noor dan ibu guru muda, Ibu Muslimah Hafsari, yang juga sangat miskin, berusaha mempertahankan semangat besar pendidikan dengan terseok-seok. Sekolah yang nyaris dibubarkan oleh pengawas sekolah Depdikbud Sumsel karena kekurangan murid itu, terselamatkan berkat seorang anak idiot yang sepanjang masa bersekolah tak pernah mendapatkan rapor. Sekolah yang dihidupi lewat uluran tangan para donatur di komunitas marjinal itu begitu miskin, gedung sekolah bobrok, ruang kelas beralas tanah, beratap bolong-bolong, berbangku seadanya, jika malam dipakai untuk menyimpan ternak, bahkan kapur tulis sekalipun terasa mahal bagi sekolah yang hanya mampu menggaji guru dan kepala sekolahnya dengan sekian kilo beras, sehingga para guru itu terpaksa menafkahi keluarganya dengan cara lain. Sang kepala sekolah mencangkul sebidang kebun dan sang ibu guru menerima jahitan.
Kendati demikian, keajaiban seakan terjadi setiap hari di sekolah yang dari jauh tampak seperti bangunan yang akan roboh. Semuanya terjadi karena sejak hari pertama kelas satu sang kepala sekolah dan sang ibu guru muda yang hanya berijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri) telah berhasil mengambil hati sebelas anak-anak kecil miskin itu.
Dari waktu ke waktu mereka berdua bahu membahu membesarkan hati kesebelas anak-anak marjinal tadi agar percaya diri, berani berkompetisi, agar menghargai dan menempatkan pendidikan sebagai hal yang sangat penting dalam hidup ini. Mereka mengajari kesebelas muridnya agar tegar, tekun, tak mudah menyerah, dan gagah berani menghadapi kesulitan sebesar apapun. Kedua guru itu juga merupakan guru yang ulung sehingga menghasilkan seorang murid yang sangat pintar dan mereka mampu mengasah bakat beberapa murid lainnya. Pak Harfan dan Bu Mus juga mengajarkan cinta sesama dan mereka amat menyayangi kesebelas muridnya. Kedua guru miskin itu memberi julukan kesebelas murid itu sebagai para Laskar Pelangi.
Keajaiban terjadi ketika sekolah Muhamaddiyah, dipimpin oleh salah satu laskar pelangi mampu menjuarai karnaval mengalahkan sekolah PN dan keajaiban mencapai puncaknya ketika tiga orang anak anggota laskar pelangi (Ikal, Lintang, dan Sahara) berhasil menjuarai lomba cerdas tangkas mengalahkan sekolah-sekolah PN dan sekolah-sekolah negeri. Suatu prestasi yang puluhan tahun selalu digondol sekolah-sekolah PN.
Tak ayal, kejadian yang paling menyedihkan melanda sekolah Muhamaddiyah ketika Lintang, siswa paling jenius anggota laskar pelangi itu harus berhenti sekolah padahal cuma tinggal satu triwulan menyelesaikan SMP. Ia harus berhenti karena ia anak laki-laki tertua yang harus menghidupi keluarga sebab ketika itu ayahnya meninggal dunia. Native Belitong kembali dilanda ironi yang besar karena seorang anak jenius harus keluar sekolah karena alasan biaya dan nafkah keluarga justru disekelilingnya PN Timah menjadi semakin kaya raya dengan mengekploitasi tanah leluhurnya.
Meskipun awal tahun 90-an sekolah Muhamaddiyah itu akhirnya ditutup karena sama sekali sudah tidak bisa membiayai diri sendiri tapi semangat, integritas, keluruhan budi, dan ketekunan yang diajarkan Pak Harfan dan Bu Muslimah tetap hidup dalam hati para laskar pelangi. Akhirnya kedua guru itu bisa berbangga karena diantara sebelas orang anggota laskar pelangi sekarang ada yang menjadi wakil rakyat, ada yang menjadi research and development manager di salah satu perusahaan multi nasional paling penting di negeri ini, ada yang mendapatkan bea siswa international kemudian melakukan research di University de Paris, Sorbonne dan lulus S2 dengan predikat with distinction dari sebuah universitas terkemuka di Inggris. Semua itu, buah dari pendidikan akhlak dan kecintaan intelektual yang ditanamkan oleh Bu Mus dan Pak Harfan. Kedua orang hebat yang mungkin bahkan belum pernah keluar dari pulau mereka sendiri di ujung paling Selatan Sumatera sana.


Identitas Buku:
Judul Buku: Laskar Pelangi
Pengarang: Andrea Hirata
Tahun Terbit: 2005
Kota Terbit: Yogyakarta
Tebal Buku: 529 halaman

Unsur Intrinsik
Tema: 
Kisah masa kecil dari anak-anak kampung yang miskin yang mencoba memperbaiki masa depan dengan menempuh pendidikan dasar dan menengah di sebuah lembaga pendidikan yang puritan

Tokoh:

Tokoh:
1.Ikal (Tokoh Utama)
2.Sahara
3.Lintang
4.Mahar
5.Flo
6.Bu Mus
7.Pak Harfan
8.Trapani
9.Kucai
10.A Kiong
11.Syahdan
12.Borek
13.A Ling
14.Harun

Penokohan:
Ikal (Pantang menyerah)
Harun (Kekanak-kanakan)
Sahara (Rajin)
Lintang (Jenius dan bersahabat)
Mahar (Pemberani)
Flo (Keras kepala)
Bu Mus (Guru yang sabar dan penyayang)
P.Harfan (Kepala sekolah yang bijaksana)
Trapani (Manja)
Kucai (Berjiwa pemimpin)
A Kiong (Baik hati)
Syahdan (Rajin)
Borek (Sok)
A Ling (Penurut)

Setting:
Tempat
•Pulau Belitong
•SD Muhammadiyah Gunung Selumar
•Pulau Lanun
•Jakarta
•Zaal Batu
Suasana
•Menyedihkan
•Menyenangkan
•Cemas
•Menegangkan
•Mengharukan
Waktu
•Siang hari

•Malam hari


Alur:
Campuran.

Karena dalam novel tersebut cerita berawal dari sebuah sekolah yang mengalami kekurangan siswa sampai pada akhirnya ada seorang siswa yang menolong nasib sekolah dan murid-murid yang ingin bersekolah di sekolah tersebut hingga mereka dewasa dan mendapatkan pekerjaan. Selain itu, dalam novel tersebut juga di ceritakan kejadian-kejadian yang sudah terjadi di bagian belakang yang menunjukkan bahwa novel tersebut memiliki alur campuran. 


Sudut Pandang:
Orang pertama tunggal. Karena dalam novel tersebut penulis menceritakan kisah hidup penulis tersebut. (Aku)

Gaya Bahasa:
Ilmiah dan Melayu

Amanat: 
Kita harus mensyukuri dengan hidup kita yang serba berkecukupan dan bisa mendapatkan pendidikan dengan layak.

Oke teman, cukup sampai di situ saja share tentang ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI KARYA ANDREA HIRATA-nya, semoga bisa membantu teman-teman dalam membuat tugas-tugas novel lainnya. Ingat, mengkopy pekerjaan orang lain adalah perbuatan yang merugikan diri kita, namun apabila menjadikan pekerjaan orang lain sebagai acuan dan motivasi kita dalam mengerjakan tugas, fine-fine saja... Ilmu tetep dapet...,
Oke, sekiaan,....

0 comments:

Post a Comment